Kaukus Indonesia Untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Menyerukan Seluruh Dosen  Di Indonesia Bergabung Dalam Aksi Peringatan Hari Buruh  Internasional

Kaukus Indonesia Untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Menyerukan Seluruh Dosen  Di Indonesia Bergabung Dalam Aksi Peringatan Hari Buruh  Internasional

Malang updatenews99 – Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) menegaskan posisi dosen sebagai buruh. Karena itu KIKA mendorong dosen membentuk serikat untuk menghadapi berbagai tekanan, terutama terkait birokrasi pemerintah.

Juru bicara Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Herdiansyah Hamzah dalam keterangan tertulisnya menyerukan kepada seluruh dosen di Indonesia untuk bergabung dalam aksi peringatan Hari Buruh  Internasional pada Senin, 1 Mei 2023.

“ Setidaknya ada tiga alasan para dosen di Indonesia juga harus bergabung merayakan Hari Buruh. Pertama, karena dosen juga buruh. KIKA merujuk definisi standar mengenai buruh dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh juncto Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Siapapun yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain, maka ia adalah seorang buruh.” Ujar Castro panggilan akrab Herdiasyah.

Saat ini kondisi dosen di Indonesia baik dari segi kesejahteraan dan hal lainnya, dinilai masih belum setara. Masih banyak dosen yang kondisi kesejahteraannya masih sangat jauh di bawah standar. Berserikat, menurutnya, akan memberi ruang bagi dosen untuk membangun empati dan solidaritas bagi rekannya yang belum memiliki hak yang sama. Fungsi lainnya, yaitu memberikan ruang untuk menyuarakan hak.

“Kita semua terkoneksi, terhubung satu sama lain, Dosen sejatinya adalah buruh, sama seperti kawan-kawan buruh lainnya. Dosen menawarkan jasa dan pikirannya, dan mendapat upah dari negara yang diambil dari pajak-pajak rakyat,” kata Herdiansyah membacakan pernyataan KIKA.

Penegasan ini dinilai penting, karena buruh selama ini diasosiasikan terbatas sebagai pekerja sektor manufaktur, atau sektor informal. Padahal KIKA berpandangan, mereka yang digaji negara seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) polisi dan tentara, sejatinya adalah buruh.

Karena itu, dosen di Tanah Air juga didorong memanfaatkan momentum Hari Buruh pada 1 Mei untuk merapatkan barisan. Menghadapi berbagai persoalan, yang menjadikan dosen terancam berbagai beban administratif dan dibelenggu aneka aturan, KIKA mendorong terbentuknya serikat dosen. Sesuatu yang sudah jamak ada di lingkungan perguruan tinggi di luar negeri.

“Sebagai buruh, dosen juga harus berserikat. Dengan berserikatlah kita menjadi kuat dan lebih terpimpin. Kegelisihan kita bersama tidak cukup hanya dengan meluapkan kemarahan. Namun harus diorganisir melalui serikat agar posisi tawar kita dihadapan kekuasaan jauh lebih kuat,” tambah Castro

Berbagai tantangan yang dihadapi kalangan dosen saat ini adakah perjuangan untuk memperbaiki kesejahteraan, penolakan tehadap Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPAN-RB) Nomor 1 Tahun 2023, kebebasan akademik, dan sejumlah persoalan lainnya. Tantangan itu diyakini hanya bisa dihadapi jika dosen membangun serikat yang kuat.

Belakangan ini, kalangan dosen di Indonesia memang gerah dengan keluarnya PermenPAN RB 1/2023 yang dianggap membebani dosen dengan memberikan tugas administratif yang terlalu berat, di samping tugas-tugas lain yang telah ada selama ini, seperti pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

“ Ribuan dosen juga membubuhkan tanda tangan dalam petisi yang meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk mengaudit berbagai aplikasi laporan yang memperberat kerja dosen. Alih-alih meringankan beban dosen, berbagai aplikasi baru yang dikeluarkan justru mempersulit dan memperumit tugas yang sudah ada.” Pungkasnya. ( Eno ).