Swasembada Beras 2025: Senjata Baru Indonesia Guncang Peta Pangan Dunia Oleh: Randika Ermawan, S.Pt.

MALANG, UPDATE NEWS99 – Bukanlah impor nikel atau ekspor batu bara, melainkan sekantung beras yang kini menjadi penentu martabat sebuah bangsa di tengah ketidakpastian global. Dengan produksi 34,77 juta ton beras pada 2025, Indonesia secara statistik surplus dan memutuskan lepas dari ketergantungan impor beras. Hal tersebut sekaligus mengubah status kita: dari konsumen menjadi pemain yang memiliki kendali atas nasib pangannya sendiri.
Dengan mengejutkan Mentri Pertanian Amran Sulaiman mengumumkan bahwa Indonesia tidak akan impor beras lagi pada tahun 2025, karena stok beras nasional sudah aman dan diperkirakan mencapai swasembada. Produksi beras nasional mencapai angka surplus 3,7 juta ton, angka tersebut merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah sejak tahun 1984.
Menghentikan kuota impor beras dilakukan dalam upaya untuk menyerap produksi beras lokal guna melindungi petani. Kebijakan tersebut faktanya mengguncang harga beras dunia, menurut data Food and Agricultural Organization (FAO) tahun 2025 harga beras dunia saat ini USD 390 per ton dari harga sebelumnya mencapai USD 650 per ton. Penurunan tersebut terkait dengan supply dan demand beras dunia, negara produsen beras seperti Thailand, Vietnam, Pakistan dan India memproduksi beras melimpah namun hanyak sedikit memenuhi kuota ekspor beras.
Di antara negara konsmen beras dunia, Indonesia menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada produk olahan beras. Kondisi ini tampaknya tidak berubah jika Indonesia disandingkan dengan negara-negara yang menjadi rujukan Indonesia untuk mengimpor beras. Pada 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor beras terbesar Indonesia berasal dari Thailand, Vietnam, dan Pakistan. Ketiganya menyumbang sekitar 93 persen dari total impor beras nasional, menjadikan mereka aktor penting dalam rantai pasok pangan Indonesia.

Swasembada Beras 2025: Senjata Baru Indonesia Guncang Peta Pangan Dunia Oleh: Randika Ermawan, S.Pt.Gambar data impor beras Indonesia tahun 2024 berdasar negara asal (Sumber BPS 2025)

 

Mengacu data impor beras Indonesia tahun 2024 sebesar 4,52 juta ton dengan 1,36 juta ton (30,19%) berasal dari Thailand dan 1,25 juta ton (27,62%) dari Vietnam. Kebijakan pemberhentian impor tersebut akhirnya mengubah peta pangan dunia yang menurunkan nilai jual beras. Negara-negara yang menggantungkan pasar Indonesia mengalami gangguan stabilitas harga. Harga beras 5% patahan Thailand tercatat di level USD335 per ton, merupakan harga terendah semenjak 18 tahun terakhir. Sedangkan, data berdasarkan Asosiasi Pangan Vietnam Harga beras 5% patahan berkisar di level USD415–USD430 per ton.
Prestasi ini tentunya hasil kerjasama antar stakeholder dalam memaksimalkan program-program kementrian pertanian. Prabowo Subianto selaku Presiden Indonesia memprioritaskan swasembada pangan menjadi program prioritas nasional guna mewujudkan ketahanan pangan. Semangat tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menempatkan kemandirian pangan sebagai bagian dari hak negara dalam menentukan kebijakan dan sistem pangan nasional.

Swasembada Beras 2025: Senjata Baru Indonesia Guncang Peta Pangan Dunia Oleh: Randika Ermawan, S.Pt.Sumber Outlook Sektor Pertanian 2020

Bukan main-main dalam meningkatkan ketahanan pangan pemerintah menganggarkan 139,5 triliun untuk program tersebut melalui beberapa kementrian dan stakeholder lainnya. Kementrian pertanian sendiri menerima anggaran sebesar 67,06 triliun dan sebesar 23,61 triliun (35,2%) khusus untuk meningkatkan produksi beras nasional. Melalui anggaran tersebut kementan melakukan program secara intensifikasi (benih padi unggulan, subsidi pupuk, pestidisa, pompanisasi) dan ekstensifikasi (penambahan operasi lahan baru (oplah) sebesar 3 juta hektar).
Swasembada beras ini bukan menjadi yang pertama kali dalam Sejarah bangsa Indonesia. Era presiden Soeharto pada tahun 1984 melalui pengakuan FAO bahwa Indonesia telah berhasil swasemba beras. Problematika yang belum mampu terurai terkait bagaimana mengstabilkan harga bagi petani dan juga konsumen. Kebijakan pemerintah membawa dampak berbeda bagi petani dan konsumen. Petani diuntungkan karena harga gabah terjaga, sementara konsumen tetap menghadapi harga beras eceran yang tinggi. Walaupun pertengahan November 2025 BPS mencatat penurunan harga beras sebesar 1,44% di tingkat konsumen dengan rata-rata Rp 15.256/kg. Angka tersebut masih terbilang kecil jika dikatakan prestasi yang membanggakan.
Harapannya pemerintah dapat memperkuat kembali strategi jangka panjang guna menjaga stabilitas produksi beras lokal dan fluktuasi harga pasar. Pada akhirnya, martabat sebuah bangsa dimulai dari kemampuan mengisi perut rakyatnya sendiri. Di tengah geopolitik yang semakin tidak menentu dan proteksionisme yang meningkat, swasembada beras adalah jaminan terpenting Indonesia bahwa kedaulatan kita tidak dapat dibeli, diganggu, atau diintervensi oleh kebutuhan pangan. Aset strategis ini harus dijaga dan diperkuat. (Ria)

 

Sumber : Randika Ermawan, S.Pt.
Gmail: randikaermawan97@gmail.com