Filsafat Politik
Proyeksi Dunia Sosial Politik dalam Konstruksi Dechiperisme
Joko Sukmono
Amerika Serikat adalah penopang utama pergerakan dunia sosial politik hari ini. Sejak akhir abad ke-20, Amerika Serikat secara politik menempatkan dirinya sebagai negara adidaya tunggal yang tidak hanya memiliki kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menentukan arah pergerakan dunia sosial politik global.
Dalam konstruksi Dechiperisme, Amerika Serikat tidak dipahami sekadar sebagai sebuah negara besar, melainkan sebagai entitas politik yang sedang menjalankan fungsi historisnya untuk memproyeksikan satu bentuk kehidupan sosial politik baru kepada dunia.
Bentuk kehidupan tersebut dikemas dalam bahasa kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia, dan keterbukaan global. Namun dalam pembacaan Dechiperisme, kebebasan yang diproyeksikan itu sesungguhnya merupakan bentuk baru dari imperialisme modern yang bergerak tidak lagi melalui kolonialisme klasik, melainkan melalui hegemoni ekonomi, teknologi, budaya, media, militer, dan penguasaan kesadaran kolektif manusia.
Inilah yang oleh Dechiperisme disebut sebagai post-imperialisme modern, yaitu sebuah bentuk kekuasaan global yang memaksa dunia menerima satu horizon kehidupan sosial politik tertentu sebagai satu-satunya jalan sejarah.
Akan tetapi, dalam pembacaan Dechiperisme, imperialisme semacam ini belum sungguh-sungguh menemukan bentuk ontologisnya yang utuh. Ia masih bergerak pada posisi esensialnya semata, terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang terus-menerus memproduksi tekanan, pengendalian, dan represivitas terhadap keberadaan manusia konkret.
Ketika dunia menengok kembali pada masa Perang Dingin, terlihat bagaimana dunia sosial politik pernah dibelah menjadi dua kutub besar yang saling bertarung memperebutkan arah sejarah manusia.
Di satu sisi berdiri Uni Soviet dengan proyek sosialisme dan pembebasan kelasnya, sedangkan di sisi lain berdiri Amerika Serikat dengan proyek kebebasan liberalnya. Kedua kekuatan besar ini sama-sama mengklaim dirinya sebagai pembebas umat manusia.
Namun dalam konstruksi Dechiperisme, keduanya dipandang sebagai bentuk kekuasaan yang tetap represif karena sama-sama gagal memahami historisitas manusia secara ontologis.
Uni Soviet menempatkan manusia di bawah kediktatoran ideologi dan kolektivitas, sementara Amerika Serikat menempatkan manusia di bawah dominasi kebebasan yang terstruktur. Keduanya sama-sama membatasi keberadaan manusia konkret dalam kerangka besar sistem yang mereka bangun.
Keruntuhan Uni Soviet dalam pembacaan Dechiperisme bukan semata-mata akibat kelemahan ekonomi atau politik, melainkan akibat tekanan historis yang tidak lagi mampu ditanggung oleh konstruksi sosialismenya sendiri.
Glasnost dan perestroika hanyalah gejala permukaan dari keruntuhan historis tersebut. Sementara itu, Republik Rakyat Tiongkok melanjutkan perjalanan sosialisme dengan langkah yang ambigu: mempertahankan tubuh ideologis sosialisme sambil mengoperasikan mekanisme kapitalisme global di dalamnya.
Dalam pembacaan Dechiperisme, kondisi seperti ini menunjukkan keraguan ontologis terhadap arah sejarahnya sendiri.
Dengan kondisi tersebut, dunia sosial politik kemudian dipenuhi oleh berbagai proyeksi besar mengenai masa depan umat manusia. Negara-negara besar, lembaga internasional, teknokrat, praktisi politik, dan operator global berlomba-lomba menyusun peta masa depan dunia melalui regulasi, road map, kanal sosial politik, strategi pembangunan, dan rekayasa global lainnya.
Masa depan dianggap dapat diprediksi, dirancang, dan diarahkan sesuai kepentingan tertentu. Namun dalam konstruksi Dechiperisme, seluruh proyeksi tersebut sesungguhnya adalah bentuk pengingkaran terhadap hukum rasional sejarah.
Sejarah tidak bergerak berdasarkan skenario yang dirancang manusia, melainkan bergerak melalui ledakan historisitas manusia yang tidak pernah sepenuhnya dapat diproyeksikan.
Setiap proyeksi dunia sosial politik pada akhirnya akan berhadapan dengan hukum rasional perubahan dan hukum rasional peralihan yang selalu membongkar setiap bentuk kemapanan.
Yang abadi bukanlah sistem, bukan pula proyeksi, melainkan perubahan itu sendiri. Oleh sebab itu, bagi Dechiperisme, setiap bentuk proyeksi yang berusaha memaksakan arah sejarah secara mutlak akan berakhir sebagai bentuk keberadaan yang ahistoris.
Sejarah umat manusia memperlihatkan bahwa hampir seluruh proyek besar dunia sosial politik pada akhirnya runtuh ketika berhadapan dengan historisitas manusia.
Napoleon Bonaparte pernah memproyeksikan Eropa baru tanpa batas-batas nasional melalui kekuatan imperium dan rasionalitas modern. Dalam banyak pembacaan sejarah, Napoleon dipandang sebagai roh politik yang hendak membentuk tatanan baru bagi Eropa.
Namun dalam konstruksi Dechiperisme, Napoleon gagal karena setiap proyeksi besar terhadap dunia sosial politik selalu berhadapan dengan trans-historisitas manusia yang tidak dapat dipaksa tunduk pada satu kehendak tunggal.
Ketika kekuasaan mencoba memproyeksikan masa depan secara total, maka pada saat yang sama kekuasaan sedang mengingkari keberadaan ontologis manusia konkret. Dalam titik inilah Dechiperisme menyebutnya sebagai kanibalisasi politik, yakni situasi ketika kekuasaan memakan keberadaan manusia demi mempertahankan proyeksinya sendiri.
Situasi global hari ini menunjukkan tanda-tanda keruntuhan stabilitas dunia sosial politik. Disintegrasi, disorganisasi, dan disorientasi institusional melanda hampir seluruh struktur kehidupan global.
Institusi internasional kehilangan daya ontologisnya, negara-negara besar mengalami kejenuhan historis, dan masyarakat dunia semakin kehilangan kepercayaan terhadap narasi besar modernitas.
Akan tetapi, kemampuan maksimum para pengelola dunia sosial politik hari ini hanyalah memproduksi regulasi baru, simulasi masa depan, dan berbagai kanal sosial politik baru yang diarahkan pada proyeksi dunia berikutnya.
Dalam pembacaan Dechiperisme, situasi semacam ini hanyalah pengulangan sejarah yang absurd. Sejarah sejatinya bukan pengulangan, melainkan gerak yang terus menerobos ke depan tanpa kompromi terhadap bentuk-bentuk lama yang telah membusuk.
Konflik-konflik global hari ini merupakan pertanda dimulainya proyek besar dunia sosial politik baru. Rezim-rezim teokrasi menyesuaikan diri, monarki melakukan transformasi, demokrasi liberal mempertahankan hegemoninya, dan berbagai bentuk kekuasaan lainnya mulai menunjukkan kesamaan orientasi politik.
Dalam pembacaan Dechiperisme, keseragaman cara pandang tersebut menunjukkan bahwa mereka sedang menghadapi kerentanan struktural yang akut. Bahkan institusi internasional mulai tunduk pada para penopang utama proyeksi global, yakni Amerika Serikat dan Israel.
Amerika Serikat diposisikan sebagai simbol kebebasan global, sementara Israel diposisikan sebagai simbol historis bangsa yang bertahan melalui penderitaan sejarahnya. Akan tetapi, dalam konstruksi Dechiperisme, keberadaan keduanya berada pada posisi ambang batas sosial politik yang sangat eksistensial.
Kesalahan historis sekecil apa pun dapat memicu ledakan konflik global yang jauh lebih besar. Karena itu tindakan politik mereka semakin bergerak menuju tindakan eksistensial yang konkret dan menentukan.
Pada akhirnya Dechiperisme menyatakan bahwa seluruh proyeksi dunia sosial politik hari ini masih berada pada posisi esensialnya semata. Kebebasan yang diproyeksikan Amerika Serikat tetap membawa dunia menuju bentuk baru dari struktur represif, karena manusia diarahkan pada satu horizon kebebasan yang telah ditentukan sebelumnya.
Sementara itu, Israel terus memperkuat narasi historisnya sebagai bangsa yang tahan terhadap tekanan sejarah. Namun mayoritas manusia di muka bumi tidak pernah sungguh-sungguh diperhitungkan sebagai keberadaan ontologis yang majemuk dan unik.
Eksistensi manusia direduksi menjadi objek geopolitik, angka statistik, dan instrumen sosial global. Dalam pembacaan Dechiperisme, apabila dunia sosial politik terus terhegemoni hanya oleh kekuatan-kekuatan besar tertentu, maka dunia akan jatuh kembali pada bentuk baru dari takhayul modern.
Ultra-nasionalisme akan bangkit dari reruntuhan sejarah, dan dunia sosial politik perlahan bergerak menuju bentuk baru dari rasisme global yang jauh lebih kompleks daripada masa-masa sebelumnya.
Dechiperisme kemudian membacakan bahwa proyeksi dunia sosial politik sesungguhnya berada dalam wilayah misteri historis yang tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui rasionalitas teknokratis biasa. Ia hanya dapat ditangkap melalui pembacaan terhadap kode-kode filosofis yang bergerak di balik peristiwa-peristiwa besar sejarah manusia.
Masa depan dunia sosial politik tidak ditentukan oleh para proyektor global, melainkan oleh terbukanya saluran historis baru melalui rekonstruksi dan restrukturisasi dunia sosial politik itu sendiri. Ketika saluran historis tersebut terbuka, maka seluruh proyeksi lama akan runtuh bersama bangkai sejarah yang selama ini menopangnya.
Dan pada saat itulah sejarah kembali bergerak dengan wajah barunya sendiri, meninggalkan mereka yang tetap bertahan pada ilusi-ilusi lama yang telah kehilangan daya ontologisnya. ***)
Posted: sarinahnews.com – malangupdatenews99.com
Surabaya, 3 Mei 2026







