MALANG, UPDATE NEWS99 – Peringatan Hari Ibu (PHI) setiap tanggal 22 Desember, lebih fokus pada peran ibu sebagai orang tua yang telah merawat dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak nya. Dan secara umum, PHI ini adalah menghormati peran perempuan secara keseluruhan.
Demikian, diungkapkan Ika Retna Yunita S.Pd, seorang ibu dua anak yang berprofesi sebagai guru di SDN 4 Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.
“Untuk PHI, saya lebih fokus pada peran ibu sebagai orang tua yang telah melahirkan, merawat dan memberikan yang terbaik untuk saya”, jelas Ika Kamis (18/12/2025).
Bu Guru Ika, termasuk satu diantara ibu tangguh yang tepat untuk diapresiasi dalam perjuangannya di bidang pendidikan. Pasalnya,dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik di SDN 4 Sumberagung sejak tahun 2020 silam harus mengatasi tantangan berlapis seperti kehujanan dan banjir yang kerap terjadi di Sitiarjo.
“Jika tiba-tiba banjir, jembatan tempat saya melintas separuhnya tergenang. Toh misalkan mesin sepeda motor saya mati, saya bisa hanyut”, kenang ASN angkatan tahun 2020 ini dengan suara parau.
Meski sesulit apapaun jalan menuju tempat tugas kala itu, tetap ia terobos, karena itu menjadi tantangan dan rintangan seorang pendidik yang pantang menyerah dalam kondisi apapun.
Lepas dari itu, secara jujur Ika mengakui, belum bisa menjadi ibu yang sempurna untuk anaknya. Itu hal wajar. Terpenting adalah ketulusan, terus belajar dan fokus pada kebahagiaan keluarga sendiri daripada membandingkan diri dengan ibu lain atau standar ideal, karena anak butuh ibu yang hadir, jujur, dan mau meminta maaf, bukan ibu yang tak pernah salah.
“Saya merasa bersalah, seperti tidak bisa mengambil rapor anak yang kini tengah duduk dibangku SMA yayasan Cor Jesu kota Malang”, jelas Ika sedih dengan mata berkaca-kaca.
Jauh dari kata sempurna itu menurut Ika, karena seringnya meninggalkan anak, lantaran kesibukan mengemban tugas di sekolah. Untuk mengambil rapor itu, Bu guru Ika harus minta bantuan saudaranya yang ada di kota Malang. “Suami saya juga pendidik di SMAK YBPK Sitiarjo”, ucap Ika dengan suara lirih.
Lebih jauh Ika menjelaskan,tujuan peringatan Hari Ibu, adalah untuk menghargai peran penting ibu dan perempuan dalam keluarga. Dan itu menjadi momentum kebangkitan dan pemberdayaan perempuan untuk mencapai kesetaraan akses dalam pembangunan, mendukung peran vitalnya dalam membentuk karakter bangsa, serta mendorong pengakuan akan kontribusi mereka di berbagai sektor.
Wanita yang mengaku dilahirkan sebagai anak tunggal 37 tahun silam ini, merasa berhutang budi. Sebagai anak tunggal, Ika memiliki tanggung jawab penuh terhadap kedua orang tuanya, bahkan seringkali terasa lebih besar dan satu-satunya tumpuan, meliputi kebutuhan finansial hingga dukungan emosional, yang bisa menimbulkan tekanan ganda terutama setelah menikah dan membangun keluarga sendiri. (H.Sur/DK)






