MALANG, UPDATE NEWS99 – Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November menjadi momentum penting untuk merefleksi, mengapresiasi serta mengenang perjuangan para tenaga didik ini, terutama mereka yang mengabdi di daerah terpencil.
Pihak terdepan dalam dunia pendidikan ini sering menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses transportasi yang sulit hingga fasilitas minim. Namun, mereka tetap bersemangat dalam mencerdaskan anak bangsa, serta memperkuat semangat kebangsaan di dunia pendidikan Indonesia.
Seperti kenangan pahit yang menimpa diri Wahyu Wijayanti S.Pd, Kepala Sekolah di SDN 1 Ringinkembar Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang tahun 2020 lalu.
“Selama tiga hari saya menangis. Karena akses jalan menuju tempat tugas waktu itu sulit dilewati dan jauh dibawah layak”, kenang Wahyu Rabu (26/11/2025).
Dijelaskan Wahyu, waktu itu akses sepanjang jalan menuju SDN 1 Ringinkembar, masih berlumpur dan becek saat di musim hujan.
Meski ada sebagian sudah dimakadam dengan batu, namun kondisi jalan sepanjang sekitar 9 KM itu tetap saja licin dan sulit dilewati kendaraan roda dua.
Sekarang jalan itu sudah lumayan bagus. Itu berkat upaya keras Pemerintah Desa Ringinkembar. Jalan itu menfasilitasi transportasi hasil pertanian.
Walaupun harus menghadapi keterbatasan infrastruktur, tetapi semangat bu guru Wahyu tak pernah padam. Karena baginya, tantangan berat itu memotivasinya untuk terus mengabdi.
Kesedihan itupun bersangsur pudar. Tekad dan semangat ASN kelahiran 4-Mei 1988 ini untuk mengajar lebih kuat, sehingga perasaan sedih itu teratasi seiring waktu setibanya di tempat tujuan.
Menurutnya, menjadi tenaga pendidik,itu memang cita-cita. “Saya merasa terpanggil dan tertata, kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak”, ujarnya.
Kepada wartawan media ini, Wahyu kembali mengaku, dunia pendidikan memang cita-cita awalnya. Ia pilih menjadi guru karena kecintaannya terhadap anak-anak dan panggilan hati.
Perjalanan lima tahun sebagai guru ASN mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab dalam mendidik generasi penerus.
Demi kecerdasan putra-putri bangsa, perjalanan berat melintasi kawasan pohon karet milik perusahaan Badan Usaha Milik Negara, rela ia tempuh. Belum lagi dengan medan terjal, harus tetap dia lalui dengan konsekuensi
“Saya sudah terbiasa dengan perjalanan ini. Walaupun agak sulit tapi saya merasa bahagia karena anak-anak disini sangat semangat belajar walaupun lokasinya agak terpencil”, Wahyu mengakhiri. (H.Sur/DK)







