Banteng Mberot di Lesanpuro, Purnomo: Meningkatkan Kerukunan Pelestari Seni Bantengan

Banteng Mberot di Lesanpuro, Purnomo: Meningkatkan Kerukunan Pelestari Seni Bantengan

 

KOTA MALANG | UPDATE NEWS99 || — Banteng Mberot di bumi Lesanpuro, Kecamatan Kedung Kandang. Seni Bantengan ini diikuti 9 club bantengan mberot dari Kota Malang dan Kabupaten Malang. Minggu, (19/5/2024)

Banteng berot digelar sejak pukul 10 pagi hingga 11 malam, yang digelar di pekarangan warga. Antusiasme warga mendukung kesenian banteng mberot sangat luar biasa.

Purnomo Kasidi ketua panitia penyelenggara bantengan mberot telah merencanakan selama 1 bulan kerja dan didukung oleh 5 club bantengan berot dari Kota Malang dan 4 club dari Kabupaten Malang.

Ia juga pimpinan club pelestari seni bantengan “Putro Mayangkoro Sejati” di Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedung Kandang.

Event gelaran mbanteng berot, yang ia sampaikan bahwa bertujuan untuk meningkatkan kerukunan club-club pelestari seni bantengan yang ada di Malang Raya.

“Gelaran event ini selain untuk melestarikan seni bantengan mberot dan juga untuk meningkatkan pendapatan pelaku UMKM di wilayah Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedung Kandang ini,” tuturnya.

“Kami sampaikan ucapan terimakasih, atas dukungannya kepada seluruh pelestari seni bantengan Mberot yang performed pagi dan sampai malam ini. Dan tentu saja ucapan terimaksih kepada seluruh warga yang telah memberikan dukungannya,” ucapnya

“Dan, tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Lurah, Bapak Camat, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Linmas, RT dan RW yang telah memberikan dukungannya hingga kegiatan ini berjalan lancar. Yang jelas semua pihak lah dan khususnya semua panitia yang telah bekerja keras sebagai Tim Work. Terimakasih, sekali lagi terimakasih,” tutupnya.

Sekedar informasi, belakangan ini, seni bantengan yang identik dengan ‘banteng kalap’ telah mengalami inovasi yang digelar oleh para pelestari dengan kata “mberot”.

Perform Kesenian Bantengan, pemain umumnya menggunakan kostum hitam dengan topeng kepala banteng yang dibuat dari kayu, dilengkapi dengan tanduk asli kerbau atau banteng, dan diiringi musik.

Seni bantengan, diiringi gamelan sebagai alat seni musik pengiring pemain dan penari yang membawa kepala banteng yang meliak-liuk di tanah lapang, hingga pada akhirnya menjadi “kalap” atau istilah baru “mberot” (kerasukan roh, red).

Akhir-akhir ini, iringan gamelan kini diganti dengan musik-musik modern bahkan musik koplo. Ini inovasi pelestari seni bantengan!

Dalam pantauan awak media, masih ada club batengan mberot yang masih mempertahankan alat musik gamelan sebagai musik tradisional untuk mengiringinya. Bahkan bertalu-talu memgiringi sholawatan.

Club terakhir yang performed bersholawat pada malam itu adalah dari club “Senopati Kebalon”.

Lehih dari itu, Banteng Mberot saat ini semakin populer di tengah masyarakat, terutama di sekitar Malang Raya. (kw/dicky)