MALANG, UPDATE NEWS99 – Desa Tambakasri Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang, terletak arah tenggara Kota Kabupaten Malang. Desa berpenduduk lebih dari 8000 jiwa ini berada di ketinggian 410 Mdpl di atas permukaan laut (DPL) dengan udara sejuk di sekelilingnya.
Cengkeh Tambakasri pernah menjadi primadona, masuk katagori terbesar di Kabupaten Malang kala itu.
Dengan nilai sosial yang kini masih melekat,meski komuditas perkebunan belakangan ini
dibilang turun drastis,namun dibalik aromanya, ketekunan, kebersamaan serta kesuksesan para petani disana menjadi catatan sejarah.
Kepala Desa Tambakasri Ngateno menuturkan,kejayaan cengkeh di Desa Tambakasri sejak tahun 1973 silam. Tanaman jenis rempah ini pernah menorehkan kejayaan di Dusun Sidomulyo.
“Nama Tambakasri kurang dikenal. Padahal, Sidomulyo itu nama pedukuhan. Orang-orang dari luar daerah lebih banyak menyebut cengkeh dari Sidomulyo”,kenang Kades sekaligus Purnawirawan TNI Al berpangkat Peltu ini Selasa (21/1/2025).
Dikatakan Ngateno, kini komuditas cengkeh di Desa Tambakasri saat ini menurut drastis sekitar 40 persen. Selain karena terserang hama, para petani disitu menggantinya dengan tanaman lain. Selain kopi dan salak ada sebagian dengan kapulogo.
“Salah seorang petani cengkeh yang dibilang berhasil kala itu bernama H.Lamu’in. Dari pendapatan panen cengkeh yang gemilang, Abah Lamu’in hingga punya rencana membeli pesawat helikopter. Karena terbentur dengan aturan, niatan itupun tidak tercapai”, ungkap Ngateno membenarkan ceritera warga desa.Disinggung terkait kondisi warga DesaTambakasri sekarang, menurut Ngateno hampir semuanya sejahtera. “Saya bilang sejahtera.Karena hampir semua rumah penduduk disini sudah layak huni. Misalkan ada program bedah rumah,itupun masih sulit dicari”,ucap Kades Tambakasri ke-13 ini dengan muka berseri.
Begitu halnya dengan pembangunan infrastruktur,lanjut dia, saat ini sudah mencapai 80 persen. “Untuk kekurangan yang dikeluhkan warga, saat ini yaitu pembangunan jalan protokol. Karena menyangkut akses jalan perekonomian, itu harus jadi skala perioritas”,pungkas Ngateno berharap. (HM/Dk)







