MALANG, UPDATE NEWS99 – Tayangan program Xpose oleh Trans 7 beberapa waktu lalu, memicu kemarahan publik, terutama dari kalangan santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Tayangan tersebut dianggap merendahkan kiai, santri, dan pesantren secara keseluruhan.
Namun demikian, tayangan yang dianggap memicu kontroversi dan menghina santri dan kyai Ponpes Lirboyo itu secara umum tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan.
Menurut Drs. H. Abdul Rahman, salah seorang pencetus Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2014 lalu, tayangan berita Trans 7 dengan tampilan narasi yang dinilai merendahkan Pondok Pesantren. Lirboyo Kediri, itu adalah ujian bagi para kyai dan santri.
“Karena yang namanya Pondok Pesantren, itu bukan hanya Lirboyo, tetapi di seluruh Indonesia. Akhirnya yang terjadi, Santri bertambah kuat, para kyai semakin solid dan bersatu”, ungkap Aba Dur panggilan akrabnya Rabu (22/10/2025).
Selain itu, kata Abah Dur, ketaatan santri kepada kyainya tidak perlu diragukan lagi. “Dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-10 tahun 2025 ini, semuga para santri tambah semangat”, Abah Dur berharap.
Untuk diketahui, Drs.H.Abdul Rahman (Abah Dur) bersama KH. Toriq bin Ziyad (Gus Thoriq) adalah pencetus peringatan Hari Santri Nasional (HSN)tahun 2014 lalu.
Sekilas, Abah Dur mengenang bahwa Gus Thoriq mempunyai ide peringatan hari santri tersebut sejak jauh sebelum momen pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu.
Kemudian ia bersama Gus Thoriq bertekad membawa ide Hari Santri ini hingga ke level lebih tinggi. Termasuk bertemu dengan para petinggi partai politik.
“Di tahun 2014, Pak Jokowi beranggapan jika Hari Santri harus diwujudkan. Kemudian di dampingi Ahmad Basarah, Pak Jokowi bersedia memutuskan Hari Santri meski ketika itu banyak menuai pro kontra,” kenang Abah Dur.“Inisiator Hari Santri itu kan Gus Thoriq. Beliau adalah mantan Ketua Bamusi juga, harus kita hormati dan teladani. Terima kasih Gus Thoriq, terima kasih juga pak Jokowi,” sambungnya.
Abah Dur menceritakan bahwa penetapan HSN merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional K.H. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.
Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan.
“Artinya peran santri dan ulama di dunia pesantren ini sangat besar bagi keberadaan negara Indonesia. Santri adalah aset bangsa yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (H.Sur/DK)







