Tetap Berjalan Selama Ramadhan, SPPG Gedangan Perkuat Koordinasi dan Gotong Royong

Tetap Berjalan Selama Ramadhan, SPPG Gedangan Perkuat Koordinasi dan Gotong Royong

MALANG, UPDATE NEWS99 – Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan suci Ramadhan 2026. Dengan beberapa penyesuaian teknis, tanpa mengurangi komitmen terhadap penyediaan gizi anak-anak Indonesia khususnya bagi peserta didik pemeluk agama Islam.

“Selama Ramadhan, bagi peserta didik pemeluk agama Islam, akan disediakan makanan kering seperti telur, roti pengganti nasi dan menu yang lain.
Menu MBG nanti akan diberikan kepada siswa sebagai bekal buka puasa dirumah”, tandas Darmaji S.Pd, mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedangan Kabupaten Malang Selasa (17/2/2026).

Diakuinya, ditengah pengoperasian SPPG Gedangan yang berjalan selama 6,5 bulan ini, yang namanya kendala itu pasti ada. Tetapi, itu dalam batas kewajaran, dan bisa diatasi dengan memperkuat koordinasi internal bersama pihak dapur termasuk lembaga.

Tetap Berjalan Selama Ramadhan, SPPG Gedangan Perkuat Koordinasi dan Gotong RoyongSelain koordinasi, hal yang paling utama juga kegotong royongan. Itu sangat penting untuk memastikan tujuan tercapai dengan lebih efektif dan harmonis.

“Di dapur SPPG ini saya ciptakan suasana gotong royong dan penuh rasa kekeluargaan. Karena, seberat apapun pekerjaan yang kita lakukan, itu akan menjadi ringan jika diwarnai kebersamaan atau gotong royong. Dan tugas itu akan lebih cepat selesai, efisien, dan menyenangkan”, ungkapnya.

Menariknya, setiap dua minggu sekali,
semua karyawan di dapur SPPG Gedangan diharuskan senam pagi. Dilakukan untuk meningkatkan kebugaran fisik dan kesehatan mental. Kegiatan ini memastikan stamina relawan tetap terjaga dalam menyiapkan menu bergizi.

“Dengan senam pagi itu, agar semua karyawan sehat. dan kekompakan akan selalu terjaga”, ujar mitra di dapur SPPG yang memiliki 50 karyawan ini dengan nada semangat.

Disinggung, terkait adanya protes dari lembaga, Ia mengaku protes itu juga pernah terjadi. Dalam melayani sebanyak 3200 MBG, tidak selamanya harus sempurna.

“Dalam melayani keluarga yang jumlahnya antara 4 sampai 5 orang saja terkadang juga bermasalah, apalagi dengan jumlah besar seperti SPPG. Kondisi itu menekankan perlunya peningkatan disiplin, pengawasan ketat”, Darmaji mengakhiri. (H.Sur/DK)