Tegaskan Identitas Pemikiran Bangsa, Komunitas Literasi Kritis Bedah Buku “Adakah Filsafat Indonesia?” di Malang

Tegaskan Identitas Pemikiran Bangsa, Komunitas Literasi Kritis Bedah Buku “Adakah Filsafat Indonesia?” di Malang

MALANG, UPDATE NEWS99 – Gramedia Kayutangan menjadi saksi diskusi intelektual yang hangat pada Sabtu (18/4/2026).

 

Komunitas Literasi Kritis menggelar bedah buku bertajuk Adakah Filsafat Indonesia? karya Dr. Andri Fransiskus Gultom, M.Phil. Acara ini dihadiri oleh hampir 100 akademisi yang antusias mendalami akar pemikiran asli Nusantara.

 

Dalam diskusi tersebut, ditegaskan bahwa filsafat Indonesia adalah entitas yang hidup dan mandiri, bukan sekadar penikmat atau konsumen pemikiran dari Barat maupun Timur Tengah. Dr. Andri, sang penulis, mengajak audiens untuk menggali thinker resources (sumber daya pemikir) lokal yang melimpah dalam kekayaan budaya Indonesia.

 

Dr. Andri menekankan agar filsafat Indonesia tidak terjebak dalam definisi tunggal yang mendominasi (hegemonik).

 

Menurutnya, filsafat Indonesia adalah sebuah mosaik—gabungan ragam kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke yang harus diakui secara beragam atau fragmentaris.

Diskusi ini juga menyoroti pentingnya memisahkan filsafat dari sekadar interpretasi politis-ideologis. Hal ini bertujuan agar kebebasan berpikir kritis tetap terjaga dan tidak terbatasi seperti pengalaman di masa lalu.

 

Hadir sebagai pembedah, Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel dari Universitas Brawijaya menggarisbawahi keunikan karakteristik pemikiran Indonesia, yakni penggabungan antara rasio (logika) dan rasa (budaya). Dr. Hipolitus memuji keberanian intelektual buku ini dalam memetakan posisi filsafat lokal.

 

Sementara itu, Prof. Dr. Pieter Sahertian dari Universitas Ma Chung menambahkan perspektif strategis. Ia menyatakan bahwa filsafat yang membumi merupakan fondasi bagi kemajuan sains dan teknologi. Ia mencontohkan negara-negara seperti China dan Jepang yang berhasil maju karena tetap teguh pada identitas filosofis Timur mereka.

 

Acara ini diharapkan menjadi katalis bagi generasi muda untuk berhenti menjadi penonton pemikiran asing dan mulai menggali dasar kebijaksanaan bertindak dari dalam negeri sendiri di tengah kompleksitas dunia modern. (Ria/Vera)

Tinggalkan Balasan